Dunia Perkuliahan

Tulisan ini dibuat dikhususkan buat kalian yang sebentar lagi lulus SMA. Tapi tenang, buat anak kelas 10 dan 11 pasti berguna juga kok buat gambaran ke depannya gimana. Saya bikin ini tulisan emang karena terinspirasi dari pengalaman pribadi pas di kampus dulu, di mana banyak banget temen-temen, senior-senior, dan junior-junior, termasuk saya yang ngerasa nggak betah di kampus dan akhirnya pindah kuliah!!? Persis banget sama apa yang akan saya tulis disini tentang warning jangan sampai salah milih jurusan
Berawal setelah saya lulus dari SMA PGRI 1 Bekasi, banyak tawaran yang menggiurkan dari kampus-kampus yang ada di sekitar saya, baik kampus negeri maupun swasta. Saya sangat tertarik dengan jurusan Ilmu Komunikasi, tapi setelah melalui berbagai pertimbangan dari faktor biaya, jarak, kualitas kampus, dan faktor-faktor lainnya, maka saya dan orang tua akhirnya sepakat memutuskan untuk memilih UHAMKA sebagai tempat kuliah saya serta memilih untuk mengambil Fakultas Ilmu Pendidikan dalam jurusan Bimbingan Konseling di Universitas tersebut. Dari awal, saya memasuki jurusan dengan bukan keinginan yang saya, dan bukan di passion saya.
Masa-masa awal perkuliahan yang saya lalui di UHAMKA sepertinya mirip dengan apa yang dialami teman-teman saya yang berkuliah di kampus lain, bahkan sepertinya Masa Orientasi yang saya alami di UHAMKA tampaknya tidak seberat apa yang dialami teman saya di kampus lain.
Singkat cerita, Masa Orientasi selesai dan saya ditempatkan di kelas 1A, di mana saya bertemu teman-teman yang serba unik dan menyenangkan. Ketika semester awal, saya mencari kosan yang jaraknya strategis dengan kampus. Dari SMA saya belum menggunakan kerudung (maaf) dan ketika di FKIP ini saya belajar pelan-pelan untuk menggunakan kerudung dan rok, karena memang diwajibkan di Fakultas ini.
Awal semester satu, semester dua saya jalani dengan sangat menyenangkan, saya mempunyai banyak teman dan saya juga dapat menghandle tugas tanpa merasa terbebani. Hingga di semester tiga, saya mengalami hal yang tidak menyenangkan karena satu dan lain hal. Hampir setiap hari, saya ke ruangan dosen konseling untuk konsultasi bahwa saya ingin pindah jurusan/kuliah karena saya tidak nyaman berada di lingkungan ini. Akhirnya, setelah beberapa proses yang cukup panjang, saya resmi pindah jurusan! Saya pindah ke jurusan Ilmu Komunikasi, ke jurusan yang memang saya minati dari SMA. Saya adalah mahasiswa konversi dari jurusan Bimbingan Konseling ke Ilmu Komunikasi di kampus UHAMKA Limau.
         Dan tiba di hari pertama saya kuliah di tempat baru, wah.. saya merasakan yang namanya NIKMATNYA BELAJAR di kampus (apalagi di jurusan yang emang diminatin), tidak membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru, karena semua ramah menyambut. Selanjutnya di hari-hari berikutnya hingga saat ini kesan yang menyenangkan untuk saya dapat bertemu dengan teman-teman yang bisa saling pengertian itu lebih dari cukup untuk saya.
Di tingkat semester satu hingga enam sekarang, saya bersyukur karena saya dapat mengikuti pelajaran dengan baik, dan memperoleh IP yang selalu meningkat, karena di UHAMKA sendiri meggunakan sistem belajar yang sanga detail. Di UHAMKA sendiri, terdapat sistem pindah kelas setiap ganti mata kuliah. Dulu pas masih duduk dibangku homeschooling paling-paling kita selalu menggunakan kelas yang sama dalam guru yang berbeda-beda! Bener kan? Tapi kalau udah masuk kuliah diajaran baru itu udah gak berlaku.. yap.. setiap ganti mata kuliah pasti selalu ganti kelas. Menurut saya sih ini hal yang paling saya suka selama kuliah. Menurut saya juga dosen juga sangat bagus menerapkan strategi seperti ini, mungkin dosen menerapkan pindah kelas setiap mata kuliah supaya mahasiswa tidak merasa jenuh dengan situasi kelas. Makna tersebut adalah semakin terasahnya kekompakkan kelas kami dalam menghadapi masa sulit bersama-sama. Di masa tersebut juga terjalin rasa saling mempercayai satu sama lain yang selanjutnya melahirkan solidaritas yang lebih tinggi lagi di antara sesama teman sejurusan, khususnya antar teman-teman sekelas.
Tapi hal yang paling saya suka bukan itu aja sih, biasanya setiap pindah kelas otomatis juga ada suasana baru juga, bukan kelasnya aja yang beda tapi orang-orangnya juga beda, jadinya kita juga dituntut untuk saling bersosialisasi juga.
Saya dan teman-teman juga selalu mencari tempat tongkrongan dekat kampus. Ini moment yang paling saya suka, biasanya saya bersama teman-teman selalu mencari spot atau tempat tongkrongan yang jaraknya agak berdekatan dengan kampus. Berhubung kampus UHAMKA Limau ini di Jakarta Selatan, tentunya sangat strategis dengan lokasi-lokasi borju, coffee shop, pusat perbelanjaan, mall, taman, apart, dll. Kalau malam pun, bisa nyobain gultik dan sate taichan Senayan yang tentunya berlokasi tidak jauh dari kampus.
         Nggak jarang juga saya ke perpustakaan baca-baca buku atau ngerjain tugas. Berhubung perpustakaannya juga puya koleksi buku yang cukup lengkap, dan suasananya cukup hening jadi dapat fokus untuk ngerjain tugas. Di perpustakaan sendiri juga terdapat Wi-Fi yang siapapun dapat mengaksesnya karena tidak menggunakan password. Di bagian pojok perpustakaan ada kumpulan skripsi-skripsi senior, ada yang setipis martabak, ada juga yang setebal polesan foundation, sambil membayangkan nanti di semester 7 saat skripsi seperti apa tantangannya.
            Di UHAMKA, terdapat 7 lantai yang tiap lantainya di fasilitasi Wi-Fi dan koneksinya cukup cepat. Passwordnya dibagi menjadi 2 untuk mahasiswa dan dosen yang passwordnya sendiri bisa minta ke bagian sekretariat. Tenang aja di UHAMKA ada liftnya kok, jadi ga perlu capek-capek naik tangga. Nah, UHAMKA menyediakan banyak sekali fasilitas diantanya yaitu Teater Mini, Lab, ruang siaran radio, dan masih banyak lainnya. Di UHAMKA juga terdapat banyak UKM (kalo SMA nyebutnya ekstrakurikuler) yaitu tari, choir, band, radio, fotografi, dll.
          Begitu banyak manfaat dan makna di balik setiap masa sulit yang saya tempuh di perkuliahan. Saya merasakan kepuasan tersendiri setelah saya berhasil menuntaskan tugas-tugas kampus. Saat ini, saya memutuskan untuk mulai bersikap positif dalam menjawab segala tantangan perkuliahan selama 1 tahun ke depan. Terapat dua pepatah klasik yang mengatakan “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” dan “Hidup adalah perjuangan”. Saya menyadari bahwa setiap tantangan yang saya hadapi dalam dunia perkuliahan, meskipun itu berat, namun pasti kelak suatu hari nanti akan kembali mendatangkan manfaat bagi saya sendiri.

Komentar